Wednesday, February 14, 2007

Wahai diri Istiqamah lah...


Wahai diri istiqamahlah, mintalah kekuatan dari Allah agar menetapkan pendirianku
Allahumma amin

Nilai Istiqamah

Istiqamah menurut bahasa berarti tetap teguh, terus menerus, berterusan, ada penerusan, konsisten atau teguh pendirian.

Allah SWT berfirman, yang artinya :
“Tetap teguhlah kamu pada jalan yang benar sebagainana yang telah diperintahkan kepada kamu”. (Hud, 11 : 112)

Beristiqamah lah, namun kamu tidak akan dapat menghitung nilai istiqamah. Ketahuilah, bahwa amalan kamu yang terbaik adalah solat. Yang dapat memelihara wudhu hanyalah orang beriman". (HR Ahmad dan Ibnu Majah). Hadis ini mengungkapkan betapa beratnya untuk melakukan sesuatu secara istiqamah, manusia tidak akan mampu melakukannya dengan sempurna. Ini tidak menghairankan kerana tabiat keimanan setiap insan yang yaziidu wa yanqus, akan bertambah dan berkurang; naik dan turun. Kadang-kadang ketika iman kita sedang naik, kita bersemangat dalam melakukan ibadah. Tapi, ketika iman sedang menurun, semangat beribadah pun menjadi lemah.

Dalam Islam, penurunan semangat beribadah ini disebut futur. Pada stadium rendah, futur muncul dalam bentuk perasaan malas beribadah, melambat-lambatkan berbuat baik, atau kurang peka terhadap peluang beramal. Dalam stadium tinggi (kronik), fenomena futur menyebabkan kita berhenti beribadah, melakukan dosa besar, hingga akhirnya jauh dari Allah SWT.

Walau kemungkinan terkena futur sangat besar, kita dianjurkan untuk tetap istiqamah dalam kebenaran sesuai kemampuan diri. Allah SWT telah menyediakan peringkat-peringkat dalam diri sehingga kita mampu mengikuti Rasulullah SAW, dengan standard dan kemampuan kita. Kalau tidak mampu melakukan semuanya, hanya sebagian harus kita perjuangkan. Contoh, Rasul biasa berqiyamullail satu malam suntuk sampai kakinya bengkak. Bagi kita yang kurang mampu seperti itu, paling minimum kita tidak meninggalkannya, walaupun hanya lakukan solat tahajud 2 rakaat.

Secara bahasa istiqamah bererti tegak dan lurus. Ada pula yang mengatakan bahwa istiqamah berarti "jalan yang lurus" atau "jalan yang berada dalam satu garis lurus". Dari definisi ini terlihat adanya hubungan antara istiqamah dengan kebenaran. Alquran menyebutnya dengan shiratal mustaqim atau jalan yang lurus. Tunjukkilah kami ke jalan yang lurus (QS Al Fatihah: 6).

Hal ini diperkuat oleh pendapat Ar Raghib yang menyatakan bahwa seseorang disebut istiqamah bila ia tetap berada di jalan yang lurus. Itulah erti firman Allah SWT, Sesungguhnya orang-orang yang berkata "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap lurus (istiqamah) dalam keimanannya (QS Fushilat: 30).

Secara umum, sikap istiqamah meliputi tiga perkara, yaitu istiqamah dengan lisan, istiqamah dengan hati, dan istiqamah dengan jiwa.

Istiqamah dengan lisan ertinya kita bertahan untuk tidak mengucapkan perkataan yang tidak bermanfaat serta dosa. KIta menyibukkan diri dengan perkataan yang baik dan benar. Rasul SAW bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam" (HR Bukhari Muslim).

Istiqamah dengan hati maksudnya selalu melakukan tajdid an-niyat, memperbaharui niat. Seseorang yang hatinya istiqamah sentiasa meniatkan setiap pekerjaannya hanya untuk Allah. Ini sesuai dengan pendapat Utsman bin Affan RA bahwa istiqamah adalah keikhlasan.

Istiqamah dengan jiwa mengandung erti ketetapan diri untuk terus menerus melakukan ibadah dan ketaatan pada Allah.

Walau kelihatan terpisah, ketiganya berhubungan antara satu sama lain. Disabdakan oleh Rasul SAW dari Anas bin Malik, "Belum dinamakan lurus keimanan seseorang, sehingga lurus pula hatinya; dan belum dinamakan lurus hatinya, sehingga lurus pula lisannya" (HR Ahmad). Oleh itu seseorang dikatakan istiqamah dalam hidupnya bila ia senantiasa lurus dalam hidupnya, konsisten, taat, pantang menyerah, dan selalu mengambil sikap pertengahan dalam segala hal; dalam wujud ucapan maupun perbuatan.

No comments: