Sunday, December 05, 2004

Waktu yang Tak Pernah Kembali

Dalam hidup ini, ramai orang terlena dan tenggelam dalam gelombang waktu. Lebih-lebih lagi mereka yang sedang meniti kerjaya hingga lupa pada kewajiban mengabdi kepada Allah SWT.

"Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya sentiasa dalam kesabaran," (QS Al-Asr: 1-4).

Betapa agung dan mulianya nilai waktu hingga Allah bersumpah dengannya. Dalam waktu terkandung keuntungan dan kemuliaan bagi orang beriman dan beramal soleh. Namun dalam waktu juga terdapat penderitaan dan kesengsaraan bagi mereka yang berpaling dari Allah dan Rasul-Nya. Tiada yang lebih berharga selain waktu. Waktu lebih berharga dibanding emas dan perak, dan lebih mulia dari apa pun yang ada di dunia ini. Umur manusia juga sangat pendek.
Waktu berlari terlalu pantas, bak sepotong pepatah arab :" Masa ibarat pedang, jika kamu tidak memotongnya, dia akan memotong kamu. Oleh itu itu setiap manusia harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Catatan ini sebenarnya untuk menasihati diri mama tentang masa dan waktu. Mama harus memanfaatkannya, ada waktu untuk beribadah demi menuai pahala sebanyak-banyaknya di akhirat nanti. Lebih lebih lagi apabila teringatkan bahwa di akhirat nanti setiap manusia harus menjawab dan bertanggungjawab terhadap semua aktiviti, tindaktanduk, kelakuan semasa mengharung kehidupan selama hidup di dunia.

Rasulullah bersabda; "Tidak beranjak dua tapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga dia ditanyakan empat perkara, iaitu : tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya setakat mana ia amalkan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang badannya untuk apa ia pergunakan." (Riwayat Tirmidzi, Hadits Hasan Sohih).

Alangkah malangnya manusia yang menghabiskan waktunya hanya untuk mengorek dan merebutkan nikmat dunia semata. Menghabiskan umur hanya untuk bermain dan berfoya-foya hingga melupakan kewajiban beribadah kepada Rabbnya. Ssaat kematian kian mendekat. Sungguh sangat rugi orang-orang yang tidak memanfaatkan sihat badan dan luang waktunya. Sepanjang amalan umur manusia di dunia diumpamakan masa menanam, sedangkan di akhirat adalah masa untuk menuai. Bila tidak ada ibadah dan amal shalih yang pernah dilakukan, apakah yang hendak dituai di akhirat nanti ?

Betapa cepatnya detik-detik waktu berlari. Setiap kesempatan yang pergi tak kan pernah kembali. Seorang penyair berkata :

KITA hanyalah penggembala,
Berkelana mengikuti pundak umurnya,
Mengarungi hari dan bulannya
Ia melalui siang dan malam
Semakin jauh dari kehidupan
Semakin dekat dengan kematian
Bagaimana seorang hamba dapat merasa senang
sementara hari melenyapkan tahunnya,
tahun melenyapkan umurnya,
dan umur membawa ke akhir hidupnya.
Mari kita gapai masa depan akhirat kita
dengan terus beribadah hanya kepada Allah SWT
dan menelusuri jejak Rasulullah
Mama

No comments: