Tuesday, September 13, 2011

Wahai isteri santunilah suami dengan adab terpuji

Catatan ini ku tujukan khas buat anak dan mennatu perempuan ku yang dikasihi agar menjadi pedoman untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat untuk terus bercinta hingga ke syurga.


Sketsa 1:

Seorang wanita memberikan nasihat kepada anak perempuannya yang akan berkahwin: Jagalah sepuluh perkara ini untuk kepentingannya:

1 & 2. Dampingilah dia dengan penuh kerelaan dan bergaullah dengan baik.

3 & 4. Jagalah tempat yang menjadi sasaran mata dan hidungnya. Bersihkan diri agar sedap matanya memandang.

5 & 6. Jagalah waktu makan dan tidurnya, kerana rasa lapar dan tidur yang terganggu akan menyebabkannya marah.

7 & 8. Jagalah hartanya dan jalinkan hubungan yang baik dengan keluarganya.

9 & 10. Janganlah menderhakai perintahnya dan jangan membocorkan rahsianya. Janganlah bergembira di hadapannya, jika dia sedang berduka dan janganlah berduka jika dia sedang bergembira.

Sketsa 2:

Wasiat Seorang Ibu Untuk Anaknya

Setelah Al Haris bin Amr, Raja negeri Kandah berkahwin dengan anak perempuan Auf bin Muhlim, di waktu utusan di raja hendak membawa pengantin perempuan untuk disampaikan kepada Raja tadi, maka ibunya berwasiat kepada anak perempuannya ini. Dia berkata:-

“Wahai anakku!

Kalaulah wasiat ini untuk kesempurnaan adabmu

aku percaya kau telah mewarisi segala-galanya,

Tetapi !

Ia sebagai peringatan untuk yang lalai

Dan pedoman kepada yang berakal.

Andai ibu-bapamu dapat memberikan segala-galanya

nescaya,

tidak perlu bagimu seorang suami

dan kau terlalu berharga bagi kami,

Tetapi !

Wanita dicipta untuk lelaki

Lelaki dicipta untuk wanita.

Berceraila kau dari ayunan buaianmu

meninggalkan teratak tempat besarmu

melangkah menuju ke alam baru

yang belum kenal

yang belum biasa

Kau milik suamimu

anggap dirimu sebagai hamba

tentunya suamimu

jadi teman yang paling setia

Bawalah wasiat dariku

sepuluh sifat

sebagai bekalan perjalanan

menuju alam bahagia

Relakan hatimu

sekadar yang ada

semoga suci hatimu

dengan taat setia

dan hulur tanganmu

tanda mahu berganding bahu

jauhkan dirimu dari

segala yang jelek

yang dihidu atau dipandang mata

juga awasi gerak lakumu

agar tidak sumbang mengguris rasa

Sembunyikan suram wajahmu

gantikan ia dengan sinar

secerah sang suria pagi

Dan badan yang semerbak harum

bermandikan bauan

mata berpasak, kening bercelak

itu menambah seri

itu membankitkan berahi

dan…………….

air cukup memada

bagi yang tiada

Jaga masa makannya

juga waktu tidurnya

kerana,

perut kosong hilang bicara

mata mengantuk hilang kesabaran di dada

Kunci mulutmu

tabahkan hatimu

badanmu terselamat

jiwa temanmu tidak terseksa

Simpan dulu kerianganmu

di kala dia berduka

pendamkan kesedihanmu

di kala dia bergembira

akibat aksi tidak senada

hilang simpatimu disebab pertama

keruh suasana disebab kedua

Hulur tanganmu……

andai kau menghulur sebelah tangan

nescaya dia menghulur kedua belah tangan

tidak cukup tangan, nyiru pula ditadahkan

Ketahuilah !

Kasihmu tiada sampai ke mana

Jika hatimu berdua tidak sejiwa

kasih kau, kasihlah dia

benci kau, bencilah dia

Allah saja yang menentukan nasibmu.”

“Kau bawalah wasiatku ini, dan sampaikan salamku kepada suamimu.” Beginilah ibu tadi menambah pesanan kepada anaknya. Seterusnya wanita ini telah tercapai kedudukan yang mulia di sisi suaminya. Dia telah memperolehi tujuh orang anak lelaki, yang semuanya mereka telah menjadi pemerintah negeri Yaman selepas ayah mereka. Beginilah seterusnya statusnya wanita-wanita yang memiliki kelebihan.

Aku sudahi dengan nama Allah, semoga Dia memberi taufik dan hidayat. Amin.

Sunday, September 11, 2011

Tuesday, August 09, 2011

Dasyatnya Sedekah

Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :
Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?”
Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).
Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?” Allah yang Mahasuci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).

Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?”
Allah yang Mahaagung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).
“Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikta.


Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat). Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?”

Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.”
Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.

Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas? Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.

Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir. Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.

Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.

Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.

Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.

Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui,” demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).

Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, “Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah.”

“Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan,” jawab Rasulullah.
Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. “Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya,” ujarnya.
Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.

Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na’im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!

Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan, sebagaimana tersurat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini.***

Banyakkan Bersedekah di Bulan Ramadan Sebagai Penebus Kemurkaan Allah

أًلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Rasulullah SAW adalah orang yang sangat dermawan, dan kedermawanan baginda semakin bertambah pada bulan Ramadan. Kebaikan-kebaikan yang baginda lakukan pada bulan itu melebihi angin yang berhembus.”

Dalam sebuah hadis Nabi SAW bersabda yg bermaksud:
“Seutama-utama sedekah adalah pada bulan Ramadan.”
(HR. At-Tirmidzi)

Zaid bin Salim meriwayatkan dari ayahandanya bahawa ia berkata: Saya mendengar Umar bin Khattab berkata: “Rasulullah SAW. memerintahkan kami agar bersedekah. Kebetulan aku sedang memiliki harta.
Umar pun berkata: “Pada hari ini aku akan melebihi Abu Bakar !” Umar melanjutkan: Aku pun membawa setengah dari hartaku.
Rasulullah berkata: “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?”
“Sebanyak ini juga!” jawabku.
Kemudian datanglah Abu Bakar dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah SAW berkata: “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?” .
Dia menjawab: “Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan RasulNya!”
Maka aku berkata: “Aku tidak akan mampu melebihimu selamanya.”

Diriwayatkan dari Thalhah bin Yahya bin Thalhah bahawa ia berkata:“Nenekku bernama Su’da binti ‘Auf Al-Murriyyah, beliau adalah isteri Thalhah bin ‘Ubaidillah- menceritakan kepadaku:“Pada suatu hari Thalhah datang menemuiku dengan wajah yang kusut. Aku bertanya kepadanya: “Mengapa wajahmu kusut seperti itu?” Apa yang telah terjadi atas dirimu? Adakah sesuatu yang dapat kubantu?
Ia berkata: “Terima kasih, kamu adalah sebaik-baik isteri seorang muslim!” Aku bertanya lagi: “Jika demikian, apa yang terjadi atas dirimu?
Ia akhirnya berkata: “Harta yang kumiliki sudah terlalu banyak dan hal itu sangat menyusahkan diriku.”
Kukatakan padanya: “Jangan terlalu bersusah, bagikan saja harta itu!”
Maka ia pun membagi-bagikan harta itu hingga tidak tertinggal sedirham pun.”
Thalhah bin Yahya (cucunya) berkata:“Aku tanyakan kepada penjaga gudangnya: “Berapa harta Thalhah ketika itu?”
“Empat ratus ribu dirham!” katanya.

Sedekah boleh melindungi dari bahaya dan musibah, serta menolak su’ul khatimah (kematian yang buruk). Sedekah mampu memberikan pengaruh yang luar biasa kepada orang yang menunaikannya. Salah satu manfaat sedekah adalah ia memelihara seseorang dari segala macam bahaya dan musibah.
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud :
Sungguh sedekah itu akan memadamkan kemarahan Tuhan dan menghindarkan dari kematian yang buruk (su’ul khatimah).” (Hadis Riwayat al-Turmuzi)

Sahabat yang dimuliakan,
Salah satu sifat orang mukmin adalah hati dan jiwanya sentiasa suka bantu membantu. Hati dan jiwanya akan resah apabila berlalu satu hati tidak ada bantuan yang dapat diberikan. Dia akan memberikan bantuan walaupun sekecil mana kepada saudara-sauadara yang perlukan bantuan dan khidmat daripada dirinya.

Daripada Abu Hurairah r.a. Rasulullah S.A.W. bersada yang maksudnya, "Siapa yang melapangkan satu kesusahan orang yang beriman daripada kesusahan-kesusahan dunia, Allah akan melapangkan orang itu satu kerumitan dari kerumitan akhirat. Dan siapa yang memudahkan orang yang susah, Allah akan memudahkannya didunia dan diakhirat. Siapa yang menutup keaiban orang Islam, Allah akan menutup keaibannya didunia dan diakhirat. Dan Allah sentiasa menolong hamba itu selagi hamba itu mahu menolong saudaranya."
(Hadis Riwayat Muslim).

Berdasarkan hadis di atas jelaslah kepada kita bahawa setiap bantuan dan pertolongan yang diberikan ikhlas kerana Allah, tidak menjadi sia-sia kerana jaminan daripada Allah SWT bahawa Dia akan membalas dengan balasan yang lebih baik samaada di dunia atau pun di hari akhirat.

Rasulullah SAW pernah menerangkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari azab neraka. Ketika beginda selesai berkhutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah SWT. dan anjuran untuk mentaatiNya. Baginda pun bangkit mendatangi kaum wanita, baginda menasihati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian baginda bersabda :
“Bersedekahlah kamu semua. Kerana kebanyakan kamu adalah kayu api Jahanam!”
Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?”
Baginda menjawab : “Kerana kamu banyak mengeluh dan kamu kufur terhadap suami!” (Hadis Riwayat Al- Bukhari)
Bersedekahlah kerana sedekah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kaum wanita dari azab neraka.

Rasulullah SAW. bersabda yang bermaksud :
“Satu dirham mengatasi seribu dirham.”
Para sahabat bertanya, “Bagaimana berlaku demikian, ya Rasulullah?”
Rasulullah SAW. menjawab, “Seorang lelaki ada dua dirham, lalu disedekahkannya satu dirham yang paling baik. Seorang kaya mengeluarkan dari hartanya yang banyak dan disedekahkan seribu dirham. Maka satu dirham itu lebih baik.”

Mata wang dirham adalah mata wang yang lumrah digunakan di zaman Rasulullah SAW. Dari hadis diatas dapat kita mengambil pengajaran bahawa sumbangan si miskin walaupun kecil tetapi besar bagi si miskin kerana ia memerlukan wang tersebut untuk menyara kehidupannya, dia terpaksa berlawan dengan perasaan dan rasa hatinya sendiri dan sanggup memberikan sedekah tersebut dengan rasa ikhlas dan takwa .

Sebaliknya si kaya tidak merasai apa-apa kesulitan walaupun dia bersedekah sebanyak seribu dirham, kerana harta yang ia miliki jauh lebih banyak daripada apa yang disedekahkan.

Oleh itu Allah SWT. menilai bukan pada jumlah sumbangan tetapi ianya dinilai daripada sejauhmana pengorbanan dan kesusahan yang terpaksa ia lalui untuk memberi sumbangan. Itulah sebabnya kenapa satu dirham mengatasi seribu dirham.

Sifat cintakan harta boleh menjangkiti siapa sahaja tanpa mengenal orang miskin atau kaya. Berlatihlah bersikap dermawan sewaktu miskin, walaupun menderma seringgit mungkin seringgit yang kita dermakan nilainya melebihi seribu ringgit. Sekiranya amalan mulia ini diteruskan, percayalah kalian akan bersikap dermawan sewaktu kaya nanti.

Didalam satu wasiat Nabi SAW kepada Sayyidina Ali r.a. mengatakan bahawa dipintu syurga ada tertulis bahawa orang yang bakhil tidak dibenarkan masuk kedalam syurga.

Sekiranya kalian membiarkan diri bersikap bakhil, kemungkinan penyakit bakhil itu akan terus kekal sewaktu kalian kaya.Rebutlah peluang untuk bersedekah dan menyumbang sementara harta dan umur masih ada. Kalian tidak tahu, mungkin esok kalian jatuh miskin atau kembali kepada Allah SWM dan tidak berkesempatan untuk bersedekah.

Seorang anak lelaki bertanya Rasulullah SAW : "Sedekah mana yg lebih besar pahalanya?
Nabi SAW menjawab maksudnya : "Sedekah yg diberikan sedangkan pada masa itu engkau masih sihat dan sebenarnya engkau bakhil (merasa sayang nak dermakan harta kerana takut jadi fakir dan engkau berangan jadi kaya) maka jangan menangguh sedekah sehingga apabila roh sampai dikerongkongan lalu pada masa itu kau berkata, "ini untuk si anu ini untuk si anu sekian" dan sebenarnya harta engkau pada masa itu memang akan dimilki oleh orang lain." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Sahabat yang dikasihi,
Banyak sekali keistimewaan bersedekah pada bulan Ramadan, maka hendaknya kalian bersegera mengerjakannya. Keluarkanlah dengan segera sedekahmu sesuai dengan keluasan yang ada padamu.

Dalam hadis Nabi SAW ada menjelaskan bahawa sedekah jariah yang diberikan dengan ikhlas semata-mata kerana Allah adalah salah satu saham akhirat yang akan mengalir terus pahalanya walaupun ia telah kembali menemui Allah SWT di alam Barzakh.

Kekayaan sebenar bukanlah kerana banyak ‘memiliki’ tetapi kerana banyak ‘memberi’. Justeru, Allah itulah zat yang Maha Kaya, kerana Dia-lah yang banyak memberi. Jika kalian banyak memberi akan meningkatkan kualiti jiwa. Jika kalian banyak menerima kalian akan hanya meningkatkan kuantiti harta. Kualiti jiwa itu matlamat, kuantiti harta itu cuma alat. Jangan tertukar antara alat dan matlamat.

Friday, July 22, 2011

Suratku kepada suami muslim yang mulia,

Surat ini adalah dari Dr. Muhammad Badi’
Murshid Am Ikhwan Muslimin.

Assalamu’alaikum wr.wb.

Aku suka memanggil kamu dengan nama di atas. Ia bukan satu panggilan tradisi, sebaliknya ia satu panggilan yang disukai dan digemari Rasulullah s.a.w.. Aku akan beritahu kamu selepas ini dengan izin Allah, kenapa nama ini dipilih.

Adapun sebab aku menulis surat ini ialah beberapa aduan daripada akhawat anggota jamaah IM telah sampai kepadaku. Begitu juga aduan daripada akhawat yang bukan anggota IM. Meskipun aku rasa bertuah kerana diberi peluang hadir di muktamar akhawat yang diadakan beberapa minggu yang lalu di dewan muktamar university al-Azhar di bawah slogan: al-mar’ah al-Misriyyah… min athaurah ila an-nahdhah (Wanita Mesir.. dari revolusi kepada kebangkitan memajukan negeri), dan aku telah berbicara kepada mereka tentang kewajipan wanita di peringkat individu, keluarga dan masyarakat, tetapi kita mesti tahu bahawa di sana terdapat hak-hak mereka daripada lelaki yang merupakan tanggungjawab aku dan tanggungjawab kamu.

Sesungguhynya aku memilih untuk berbicara kepada kamu secara langsung, mengingatkan kamu peranan yang dipikulkan Allah ke atas bahu kamu, yang dipesan oleh Rasulullah s.a.w. kepada kamu ketika baginda berada di ambang kematian. Ia merupakan wasiat terakhir yang paling berharga pernah diungkapkan oleh orang yang berwasiat.

Tuhan yang memiliki kebesaran berpesan kepada kamu supaya menjadikan hubungan kamu dengan isteri kamu bertunjangkan mawaddah dan rahmat, dibaluti kesedaran akan masuliah (pertanggungjawaban). Maka kamu adalah pengemudi bahtera keluarga. Kepimpinan kamu adalah kepimpinan yang berupa pertanggungjawaban, bukan penghormatan. Tuhan kamu berpesan supaya kamu jangan lupa kerana jika kamu lupa, kamu akan dilupakan. “… dan janganlah pula kamu lupa berbuat baik dan berbudi sesama sendiri. Sesungguhnya Allah sentiasa melihat akan apa jua yang kamu kerjakan.” (Al-Baqrah:237). Al-fadhl ialah kamu memberi lebih banyak daripada kamu meminta, kamu mengambil hak kamu lebih sedikit daripada yang sepatutunya.

Dia berkata kepada kamu, bahawa kamu melindungi isteri, anak-anak daripada kemudaratan dan perkara yang membahayakan sama ada dari aspek kebendaan dan maknawi, juga usaha kamu membawa manfaat kebendaan dan maknawi kapada mereka merupakan tanggungjawab yang diletakkan di atas bahu kamu sejak mula dijadikan ayah kamu Adam dan ibu kamu Hawwa sebagaimana firmanNya yang bermaksud: “Maka, Kami berfirman: Wahai Adam sesungguhnya Iblis ini musuh bagimu dan bagi isterimu; oleh itu, janganlah dia menyebabkan kamu berdua keluar dari Syurga, kerana dengan yang demikian engkau (dan isterimu) akan menderita.” (Ta Ha:117)

Dan Rasulullah Musa a.s. telah merealisasikannya secara amali, sebagai mematuhi tuntutan Ilahi yang penuh dengan hikmah yang sangat mendalam maknanya “Ketika dia melihat api, lalu berkatalah dia kepada isterinya: Berhentilah! Sesungguhnya aku ada melihat api semoga aku dapat membawa kepada kamu satu cucuhan daripadanya atau aku dapat di tempat api itu: Penunjuk jalan.” (Ta Ha:10). Ayat ini mahu menyampaikan bahawa Musa seoalah-olah berkata kepada keluarganya: kamu tunggu di sini! Aku akan meninjau keadaan sekitar untuk mengelakkan kamu daripada bahaya dan perkara yang memudaratkan. Dan aku akan bawa kepada kamu perkara yang bermanfaat dari segi maddi dan maknawi.

Dan Allah juga telah menjadikan ikatan hubungan suami isteri ini dengan aqad yang kukuh yang diikat sendiri oleh kamu. Kamulah yang wajib memeliharanya. Allah akan menghisab kamu faktor-faktor yang menjadi ikatan itu kekal kukuh atau terburai “Dan bagaimana kamu tergamak mengambil balik pemberian itu padahal kasih mesra kamu telah terjalin antara satu dengan yang lain dan mereka pula (isteri-isteri kamu itu) telahpun mengambil perjanjian yang kuat daripada kamu?” (an-Nisaa’:21)

Adapun kesalahan wanita atau keaipan mereka, ia seumpama keaipan kamu dan kesalahan kamu. Kedua-dua kamu perlukan kesabaran untuk merawatnya. Namun tali kekangannya tetap berada di tangan kamu agar kapal ini hanya dikemudikan oleh seorang individu sahaja. Urusan keluarga bukan tempat untuk berebut kuasa atau beradu tenaga untuk jadi ketua sabagaimana yang cuba dilakukan oleh musuh-musuh Islam dan musuh-musuh kemanusiaan untuk mencarikkan ikatan yang suci ini. Mereka cuba menyalakan api pertentangan antara lelaki dan perempuan dengan mengunakan setengah kesalahan yang dilakukan oleh sebahagian suami dan mengaitkan kesalahan itu dengan sistem Islam, syariah rabbaniah yang telah meletakkan tanggungjawab kepimpinan di bahu lelaki, semua lelaki ke atas semua wanita, demi memelihara kesejahteraan masyarakat.
Sesungguhnya al-Quran telah menyatakan dengan ringkas dan padat semua sistem-sistem yang diperlukan oleh manusia. Semua itu tersimpul di dalam beberapa ayat yang sangat ringkas. “Demi malam apabila ia menyelubungi segala-galanya (dengan gelap-gelitanya), Dan siang apabila ia lahir terang-benderang; Demi Yang menciptakan (makhluk-makhlukNya) lelaki dan perempuan, (jantan dan betina); (Maksud al-Lail:1-3)
Malam dan siang, lelaki dan perempuan, saling bergandingan, lengkap melengkapi. Bukan berebut dan bersaing. Tiada kelebihan yang satu ke atas yang lain kecuali dengan melaksanakan peranan masing-masing.

Sebagai contoh, lihat isteri Firaun. Firaun mendakwa dirinya sebagai tuhan. Namun dakwaan itu sedikitpun tidak menjejaskan iman isterinya. Sebaliknya dua orang wanita lain yang menjadi isteri kepada dua orang nabi yang mulia, tidak mendapat apa-apa kelebihan di sisi Allah di sebabkan keingkaran mereka. Dan Maryam pula, seorang wanita solihah yang tidak bersuami. Jadi setiap individu mempunyai kedudukan tersendiri di sisi Allah. Ia dihisab secara berasingan daripada pasangan masing-masing. Setiap orang mempunyai masuliah fardiah yang tidak boleh dipikul oleh orang lain.

Ketika Nabi s.a.w. menyebut bahawa wanita seperti tulang rusuk yang bengkok, itu tidak bermakna keaipan bagi wanita kerana wanita tidak menciptakan dirinya sendiri. Dari sisi lain kita dapati tulang rusuk yang bengkok itulah sebenarnya bentuk yang paling baik dan paling ideal. Kalaulah tidak kerana tulang rusuk itu bengkok, jantung tidak akan berada dalam keadaan yang selesa dan tidak akan dapat menjalankan pungsinya membekalkan darah ke seluruh anggota. Sepasang paru-paru juga begitu. Jika tulang rusuk tidak bengkok, seluruh tubuh tidak dapat bernafas, insan tidak akan hidup sihat dan sejahtera, tidak akan mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawab yang diamanahkan ke atasnya.

Justeru, Allah Azza wa Jalla berkata, ketika kamu tidak suka kepada sesuatu perkara yang ada pada isteri kamu – kesempurnaan itu hanyalah milik Allah jua - kamu juga tidak terlepas dari kekurangan dan kesilapan. Dalam kontek ini Allah berfirman maksudnya: “… Kemudian jika kamu (merasai) benci kepada mereka (disebabkan tingkah-lakunya, janganlah kamu terburu-buru menceraikannya), kerana boleh jadi kamu bencikan sesuatu, sedang Allah hendak menjadikan pada apa yang kamu benci itu kebaikan yang banyak (untuk kamu).” (An-Nisaa’:19)

Rasulullah s.a.w. pula telah menghuraikan perkara ini dengan terperinci dan praktikal yang kamu boleh laksanakan dengan segera. Kamu yang mesti laksanakan, bukan dia (isteri kamu) kerana kamu adalah pengemudi, kamu yang bertanggungjawab. Baginda bersabda maksudnya: “Janganlah seorang mu’min itu (suami) membenci seorang mu’minah (isterinya) kerana boleh jadi dia tidak suka pada sesuatu perangainya, dia suka perangainya yang lain”. Maksudnya di sini, jika kamu melihat sesuatu yang tidak ada kaitan dengan prinsip-prinsip iman, maka kamu mesti mengubah mood kamu sendiri, sehingga kamu dapat melihat dan mengiktiraf kelebihannya dari aspek yang lain yang pastinya terlalu banyak yang kamu sukai. Maka dengan itu perasaan benci dengan segera akan bertukar menjadi sayang.

Aku ingin mengingatkan kamu satu maklumat yang simple yang kadang-kadang kita lupa. Tidakkah zakat fitrah isteri kamu, anak-anak dan khadam kamu yang bayar walaupun isteri kamu seorang yang kaya raya? Itu merupakan lambang pertanggungjawaban yang dipikulkan ke atas kamu kerana itu bukan zakat harta. Zakat harta yang dimiliknya adalah tanggungjawab dia sendiri. Dia yang mesti tunaikan secara berasingan daripada kamu. Awas kamu! Jangan ambil sedikitpun daripada hartanya tanpa izinnya dan jangan halang dia berbuat baik kepada keluarganya mengikut sukanya. Jika kamu berbuat demikian maka hisab kamu di sisi Allah amat sukar. Allah mengharamkan kezaliman ke atas diriNya dan menjadikan kezaliman itu haram ke atas sesama hambaNya.

Jadilah kamu orang yang sentiasa setia kepada isteri kamu kerana Rasulullah s.a.w. sentiasa setia kepada isterinya Khadijah r.a., kesetiaan yang sungguh indah sehingga selepas Khadijah meninggal dunia. Ia menjadi contoh bagi seluruh umat manusia. Begitu juga baginda tidak menyembunyikan perasaan cintanya kepada Aishah r.a. ketika baginda ditanya siapakah manusia yang paling baginda cintai. Maka dengan spontan baginda menjawab dengan terang dan tegasa: “Aishah!” Lalu sahabat berkata bahawa mereka bukan tanya tentang wanita, dan sekali lagi baginda menjawab: “Ayahnya!”. Baginda tidak berkata “Abu Bakar”, sebaliknya berkata: “Ayahnya”. Ia memberikan gambaran hubungan mesra dan intim antara baginda dan Aishah dan secara tidak langsung menggambarkan kedudukan Abu Bakar di sisi baginda.

Adakah kamu fikir ada ungkapan yang lebih indah daripada ini bagi menggambarkan rasa cinta seorang suami kepada isterinya? Unggkapan yang begitu tulus lahir dari bibir suami pastinya mampu memadam apa-apa kesilapan dan perselisihan antara kamu berdua.
Seandainya masalah yang kamu hadapi, na’uzubillah, sudah sampai ke tahap bercerai, dan cerai adalah perkara halal yang paling dibenci Allah, isteri yang diceraikan itu berhak tinggal di rumah kamu, hak yang ditentukan sendiri oleh Allah, agar dengan keberadaannya di rumah itu, hati kamu dan hatinya akan jadi lembut, dan perselisihan yang berlaku sebelumnya akan lebur. Tidakkah kamu nampak, dalam keadaan yang begitu genting sekalipun, Allah tetap menghendaki kamu melaksanakan tanggungjawab dengan sebaik mungkin. Perhatikan ayat-ayat berkaitan dengan talaq, kebanyakannya dibasahi dengan ciri-ciri kelembutan dan kebajikan. Lihat surah at-Talaq ayat 1 hingga 3.

Akhirnya jangan kamu lupa wasiat perpisahan kekasih kita s.a.w. “Hendaklah kamu berpesan agar berbuat baik kepada wanita…”. Sungguh mengkagumkan, wasiat ini digandingkan dengan wasiat supaya menjaga solat. Tidakkah kamu rasa bahawa ia merupakan suatu perkara yang sangat penting?

Justeru, wahai saudaraku para suami, di manapun kamu dan dalam keadaan apapun, maka setia dan setialah kepada isteri kamu! Berbuat baik dan berbuat baiklah kepada isteri kamu! Beri perhatian dan beri perhatianlah kepada perasaan isteri kamu! Berbakti dan berbaktilah kepada keluarga isteri kamu! Bantu dan bantulah isteri kamu untuk berbakti kepada keluarganya. Bawalah isteri kamu memikul bersama kamu beban keluarga dan beban dakwah. Jadikan dia sandaran belakang kamu supaya dia dapat berjalan seiring kamu sambil membawa risalah dakwah yang diwajibkan Allah ke atas kamu.

Awas dan awas daripada mengambil hartanya tanpa kerelaannya. Adapun jika dia rela, Allah telah jelaskan hukumnya di dalam firmanNya yang bermaksud: “… Kemudian jika mereka dengan suka hatinya memberikan kepada kamu sebahagian dari mas kahwinnya maka makanlah (gunakanlah) pemberian (yang halal) itu sebagai nikmat yang lazat, lagi baik kesudahannya. (An-Nisaa’:4)

Ingat neraka dan neraka! Selamatkan isteri kamu darinya. “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari Neraka…” (At-Tahrim:6)

Ingat syurga dan syurga. Bawalah dia bersama kamu serta anak-anaknya. “Mereka dengan pasangan-pasangan mereka bersukaria di tempat yang teduh, sambil duduk berbaring di atas pelamin;” (Ya Sin:56)

Dan ingatlah juga bahawa orang yang terbaik dalam kalangan kita ialah yang paling baik kepada isterinya. Dan sesungguhnya Rasulullah s.a.w. orang yang paling baik kepada isterinya dalam kalangan seluruh umat manusia. Maka adakah kita mencontohinya?

Akhirnya, Rasulullah s.a.w. menamakan kamu suami yang mulia (zauj karim) selama kamu melaksanakan wasiatnya yang bermaksudnya: “Tidak memuliakan wanita kecuali orang (suami) yang mulia, dan tidak menghina wanita kecuali orang yang tercela!”. Maka jadilah kamu wahai saudaraku suami muslim yang mulia. Semoga Allah berkati kamu pada isteri kamu, harta kamu dan anak-anak kamu. Semoga Allah rahmati ibu bapa kamu dan ibu bapa isteri kamu sama ada mereka masih hidup di dunia ini atau telah berpindah ke alam abadi. Semoga Allah himpunkan kamu berdua dalam kebaikan dunia dan akhirat. Semoga Allah berkati zuriat kamu berdua.

Sesungguhnya aku telah berbicara kepada para isteri dalam muktamar lepas dengan membawakan satu Hadis yang menjamin pahala untuk mereka, iaitu seorang wanita yang melayan suami dengan baik pahalanya menyamai jihad, solat jamaah, solat jumaat dan mengiringi jenazah. Dan redanya kamu kepada mereka merupakan pintu untuk mereka masuk syurga.

Aku berharap kamu tidak lupa kepada kami dalam doa-doa kamu yang baik-baik.
Was-salamu’alaikum wr.wb.

Saudara kamu,
Dr. Muhammad Badi’
Murshid Am Ikhwan Muslimin.

Saturday, July 02, 2011

Saat terindah dalam sehari......

Di dalam solat terjadi dialog yang sangat indah antara seorang hamba dengan AL Khaliq. Di dalamnya juga terangkum penghormatan, penghargaan, pengakuan, dan cinta sejati (hamd), harap (raja'), dan cemas (khauf).

Di dalam sebuah hadis Qudsi, secara eksplisit Allah SWT menyamakan al-Fatihah dengan as-Solah. Nabi SAW bersabda, "Allah Yang Mahamulia dan Mahabesar berfirman: "Aku membahagikan solat antara Aku dan hamba-Ku dua bahagian, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya.

Makhluk Membaca

Al Khaliq menjawab

1

"Alhamdulillahi rabbil 'alamin" (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam),

"Hamba-Ku memuji Aku."

2

"Arrahmanirrahim" (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang),

"Hamba-Ku menyanjung Aku."

3

"Maliki yaumiddin" (Yang Memiliki hari pembalasan kepada-Ku".

"Hamba-Ku memuliakan Aku", kadangkala Dia berfirman: "Hamba-Ku menyerah

4

"Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in" (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan), dimintanya."

"Ini antara Aku dan hambaKu, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta

5

"Ihdinashshirathal mustaqim. Shirathal ladzina an'amta alaihim ghairil maghdhubi 'alaihim wa ladhdhallin" (Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri petunjuk atas mereka bukan [jalan] orang-orang yang dimurkai atas mereka dan bukan [jalan] orang-orang yang sesat).

: "Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang diminta nya."


Wednesday, June 15, 2011

15 Kesilapan ibu bapa dalam mendidik anak-anak

InsyaAllah pada 18hb Jun ini mama akan menjadi salah seorang ahli panel dalam Program Seminar Ibu 2011 anjuran IKRAM. Semua dijemput hadir. Semoga kita mendapat manfaat dan ALlah merahmati kita semua. Amin

Semasa sedang mencari-cari bahan mama terjumpa artikel dibawah yang memberikan banyak tips yang baik dan berguna untuk dikongsi bersama.

15 Kesilapan ibu bapa dalam mendidik anak-anak
kepada yg. berstatus ibu/bapa atau bakal ibu/bapa, fikir-fikirkan lah....

Sumber : Jalinan Keluarga
diubahsuai dari Kuliah Mingguan Surau An-Nur, 10 Jun 1998 oleh Ustaz Khalid Haji Mohd Isa

"Harta benda dan anak-anak kamu hanyalah menjadi ujian dan di sisi ALLAH ada pahala yang besar." (Al-Quran Surah At-Taghabun, 64:15)

Anak-anak adalah amanah dari ALLAH s.w.t. dan ianya sebahagian dari ujian ALLAH s.w.t. kepada kita hamba-hamba- Nya. Sebagai ujian, ianya akan dipertanggungjawabk an. Orang yang malang ialah orang yang mempunyai ramai anak tetapi anak-anaknya tidak membawa kebaikan kepadanya di akhirat. Rasulullah SAW diberitakan telah bersabda :

"Tahukah engkau siapakah orang yang mandul." Berkata para sahabat : "Orang yang mandul ialah orang yang tidak mempunyai anak." Lalu Rasulullah SAW berkata : "Orang yang mandul itu ialah orang yang mempunyai ramai anak tetapi anak-anaknya itu tidak memberi kemanfaatan kepadanya sesudah ia meninggal dunia."-(Maksud Al-Hadith )

Ini mungkin disebabkan beberapa kesilapan dalam mendidik anak-anak.

1. Kesilapan pertama: Kurang berdoa

1.1 Kurang berdoa semasa mengandung. Antara doa-doa yang digalakkan diamalkan semasa mengandung ialah

* Saidul (penghulu) Istighfar
* Doa memohon rahmat (Al-Quran Surah Ali 'Imran, 3 : 8-9)
* Doa memohon zuriat yang baik (Al-Quran Surah Ali 'Imran, 3 : 38)
* Doa agar anak mengerjakan solat (Al-Quran Surah Ibrahim, 14 : 40-41)

1.2 Kurang berdoa semasa membesarkan anak. Doa-doa yang digalakkan diamalkan semasa anak membesar ialah

* Doa agar anak patuh kepada ALLAH s.w.t. (Al-Quran Surah Al-Baqarah, 2 :128)
* Doa diberi zuriat yang menyejukkan hati (Al-Quran Surah Al-Furqan, 25 :74)
* Doa supaya nama anak membawa kebaikan kepadanya.

2. Kesilapan kedua: Banyak memberi belaian Tarhib (menakutkan) daripada Targhib (didikan atau motivasi) seperti :

* menakutkan anak-anak dengan sekolah
* menakutkan dengan tempat gelap
* menakutkan dengan hutan rimba atau bukit bukau
* menggunakan kekerasan dan paksaan semasa menyuruh anak tidur

3. Kesilapan ketiga: Tidak tegas dalam mendidik anak-anak
* tidak menjadualkan kegiatan harian anak-anak
* terlalu memfokuskan anak-anak kepada sesuatu aktiviti sahaja tanpa mengambil kira perasaan mereka.

4. Kesilapan keempat: Menegur anak secara negatif

* mengeluarkan kata-kata kesat dan maki hamun kepada anak-anak (terutama semasa marah).
* membandingkan anak-anak dengan anak-anak lain atau anak orang lain.

5. Kesilapan kelima: Memberi didikan yang tidak seimbang antara jasmani (physical), rohani (spiritual) dan minda (intelektual)

* ramai yang lebih mementingkan pendidikan minda dari pendidikan rohani

6. Kesilapan keenam: Kurang memberi sentuhan kepada semua anak-anak sedangkan Rasulullah kerap dilihat mendukung cucu-cucunya dan mencium mereka. Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. :

Pada suatu hari Rasulullah SAW mencium Al-Hassan atau Al-Hussien bin Ali r.a. Ketika itu Aqra' bin Habis At-Tamimiy sedang berada di rumah baginda. Berkata Aqra' : "Ya Rasulullah! Aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium seorang pun dari mereka." Rasulullah melihat kepada Aqra' kemudian berkata : "Siapa yang tidak mengasihi tidak akan dikasihi."-( Maksud Al-Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)

7. Kesilapan ketujuh: Penampilan diri yang kurang anggun dan kurang kemas

* ibu bapa tidak menunjukkan cara berpakaian yang kemas dan yang menepati kehendak syarak bila berada di rumah, iaitu berpakaian secara selekeh atau berpakaian seksi di hadapan anak-anak.

8. Kesilapan kelapan: Susunan rumahtangga yang tidak kemas. Ini mengakibatkan anak-anak terikut-ikut dengan cara itu dan membesar menjadi pemalas dan selekeh.

9. Kesilapan kesembilan: Kurang menghidupkan sunnah di rumah seperti memberi salam, makan berjemaah, beribadah bersama-sama, dan sebagainya. Dalam menjawab salam, lazimkanlah menjawab salam dengan yang lebih baik dari salam yang diberi.

10. Kesilapan kesepuluh: Tidak menggantungkan rotan di tempat yang mudah dilihat oleh anak-anak. Dalam Islam, merotan anak dengan tujuan mendidik adalah satu sunnah.

11. Kesilapan kesebelas: Kurang mendedahkan anak-anak dengan model yang cemerlang seperti para ulama' dan orang-orang yang berhemah tinggi dan berakhlak mulia. Anak-anak juga patut didedahkan dengan sembahyang jemaah, kuliah agama dan aktiviti-aktiviti yang bersesuaian dengan akhlak Islam.

12. Kesilapan keduabelas: Bertengkar di depan anak-anak. Ini akan menyebabkan anak-anak rasa tertekan dan membenci salah seorang dari ibubapanya.

13. Kesilapan ketigabelas: Membenarkan orang yang tidak elok sahsiyahnya masuk ke dalam rumah kita, baik dari kalangan sahabat sendiri ataupun sahabat anak-anak, kerana ini akan memberikan contoh yang tidak baik kepada anak-anak yang masih membesar.

14. Kesilapan keempatbelas: Kurang mengawasi rancangan-rancangan yang ditonton samada dari TV ataupun video. Pengawasan dalam hal ini adalah penting kerana kebanyakan rancangan dari media ini menonjolkan akhlak yang kurang baik seperti pergaulan bebas lelaki dan perempuan, pakaian yang tidak menepati syarak dan perbualan yang boleh merosakkan agama anak-anak.

15. Kesilapan kelimabelas: Terlalu bergantung kepada pembantu rumah untuk mendidik anak-anak. Sebagai ibubapa kitalah yang akan disoal di akhirat kelak akan anak-anak ini. Oleh itu adalah menjadi satu kepentingan kita untuk berusaha memastikan anak-anak terdidik dengan didikan Islam.

Thursday, April 21, 2011

JOM TONTON TEATER ISLAMOPHOBIA

Pertubuhan IKRAM Malaysia (IKRAM), sebuah pertubuhan Islam ingin mengajak rakyat Malaysia untuk menonton sebuah persembahan teater bertajuk, “Islamofobia”.

Teater arahan aktivis teater tempatan, Saudara Santhira Morgan ini dipentaskan oleh Serious Comedy Studio. Skrip yang juga ditulis oleh Saudara Santhira, diselia dan diteliti oleh Dr Osman Chua, dari Kulliyah Usuluddin, Universiti Islam Antarabangsa, untuk memastikan kandungannya tidak terpesong dari ajaran Islam. Pra-tonton teater ini turut dihadiri oleh ahli-ahli daripada beberapa pertubuhan Islam termasuk MACMA, Darul Fitrah, dan Jamiiyah

Persembahan pada hari Sabtu 23 April 2011 bermula jam 2030 di Kuala Lumpur Performing Arts Centre (KLPac) adalah ditaja oleh Hidayah Centre dan Pertubuhan IKRAM Malaysia. Tempat duduk terhad kepada 200 tempat sahaja. Masuk adalah percuma jika membawa rakan belum Islam. Untuk sebarang maklumat lanjut sila hubungi Encik Zun Arif Hakim ditalian 017-366 7126.

Adalah menjadi hasrat IKRAM agar teater ini dapat menggalakkan perbincangan yang sihat berkenaan satu tajuk yang amat penting dalam kehidupan masyarakat berbilang agama seperti Malaysia.

Jadual persembahan lain disertakan. Sama-samalah kita menyokong usaha murni ini.