Larian Waktu terlalu pantas. Tidak terkejarkan. Ia ibarat pedang yang memotong kehidupan. Waktu yang terpotong hanya boleh diabadikan. Waktu yang diabadikan adalah tulisan kehidupan. Tulisan kehidupan mungkin dapat memberi makna, menjentik intuisi, memperkaya inspirasi,merakam masa lalu dengan kesyukuran, masa depan penuh harapan
Friday, June 20, 2014
Menangislah.......kerana .....
Friday, July 13, 2012
Tiada istilah pencen dalam dakwah dan kehidupan
Semasa mendengar ceramah dari seorang Sheikh mengenai tanggungjawab dakwah dan memberi khidmat kepada insan dalam kehidupan mama insaf dan menyedari memang tidak ada masa rehat di dunia, kita hanya akan berehat apabila baring di dalam kuburan. Itupun jika cukup amalan di dunia. Seorang sahabat memberikan 10 sebab mengapa dia tidak suka 'pencen':
10 Reasons why people do not wish to retire
- Need the maximum salary before one will decide to call it quits
- Need to feel employed
- Feel unstable if retired
- Feel lonely if retired
- Nobody likes a retired person
- Retirement has a stigma of little money
- Retirement means a person is no longer able to perform anything good
- A retired person is useless unless proven otherwise
- Retirement means one gets <50% last pay (too little for survival as things are costly)
- Retirement means one is no longer needed, no longer desired and therefore useless
Wednesday, July 11, 2012
Jangan Biarkan Hati Ini Menghitam
Ayat yang membuat hatiku bergetar hebat. Takut hati ini sungguh takut. Yaa Rabb, bagaimanakah nasibku di Hari Akhir nanti? Apakah hamba termasuk ke dalam golongan yang dihinakan, diabaikan oleh-Mu? Dikumpulkan dalam keadaan buta? Betapa mengerikan! Bayangkanlah… Dikumpulkan dalam keadaan buta … Tuhan kita mengabaikan kita, dan kita pun terhalang memperoleh kelazatan memandang wajah Allah! Na’udzubillah…
Di dunia ini kita telah dianugerahkan dengan berbagai nikmat yang sangat banyak dan besar nilainya , mata yang dapat melihat, telinga yang dapat mendengar, mulut yang dapat berbicara dan juga akal yang dapat berfikir. Bayangkan bila detik ini Allah tiba-tiba mencabut nikmat mata, nikmat telinga, nikmat mulut, dan nikmat akal dari kita, apa yang dapat kita lakukan?
Maka, sudahkah kita bersyukur? Menggunakan mata, telinga, dan akal untuk mengambil pelajaran? Merenungkan dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Nya? Dengan kurnia panca indra dan akal dari Allah, adakah kita semakin mendekatkan diri kepada Allah?
Atau sebaliknya mata, telinga, mulut juga akal kita gunakan untuk melakukan maksiat? Kita gunakan nikmat Allah dengan menuruti hawa nafsu, mata yang menjalang pandangan, mulut yang berdusta, telinga yang mendengar hiburan yang lagha dan melalaikan , hati yang kotor penuh mazmumah, kalbu yang lalai mengingat-Nya, dan akal yang tidak mau mengambil pelajaran, mengabaikan ayat-ayat-Nya…
Padahal kita amat tahu bahawa mata, telinga dan hati kita sungguh-sungguh akan diminta pertanggungjawabannya…
Di dunia ini ada manusia yang dikatakan oleh Allah telah buta. Bukan, bukan matanya yang buta, tetapi hatinya yang buta.
Sebagaimana dalam firman Allah Swt:
“Sesungguhnya bukan penglihatan ini yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada.” (Al Quran Surah al Hajj: 46)
Mengapa mata hati menjadi buta? Kerana dalam hati tidak ada cahaya. Bukankah kita dapat melihat kerana adanya cahaya? Begitu pun mata hati kita perlukan cahaya. Cahaya dari Allah, Sang Pemilik cahaya.
“Allah pemberi cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, dan tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan di barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya dia atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An Nur: 35)
Saya teringat sebuah hadis: “Apabila hamba melakukan dosa, muncul goresan hitam di hatinya. Jika ia melakukan dosa lagi, goresan hitam bertambah. Bila ia berterusan begitu, hatinya menjadi hitam.”
Mungkin inilah penyebab butanya mata hati. Hati menjadi hitam kerana dosa! Sehingga cahaya Ilahi tidak mampu tembus ke dalam hati yang hitam ini!
Rasulullah Saw melanjutkan, “Namun, jika bertaubat, hatinya menjadi bersih dan terang.”
Alhamdulillah… Masih ada kesempatan untuk membersihkan hati yang penuh dengan goresan hitam, sehingga hati kita kembali bersih, sehingga cahaya Ilahi dapat dengan mudah masuk ke dalam hati ini.
Jangan!, jangan biarkan hati kita menghitam, berkarat, dan kemudian membatu. Bahkan menurut Allah, batu pun lebih baik dari hati kita!
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada air yang mengalir sungai-sungai daripadanya, dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antara sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah…” (Al Quran Surah. Al Baqarah: 74)
Tidakkah kita sebagai seorang mukmin malu ketika membaca ayat ini? Bahkan batu pun jatuh meluncur kerana takut kepada Allah! Adakah hati kita takut kepada Allah? Takut tatkala melakukan maksiat dan dosa? Takut akan azab dan siksa-Nya yang teramat keras?
Rasa takut menuntunku untuk bersegera menghadap Allah, mengambil air wudhu… khusyuk, rukuk dan sujud kepada-Nya, bersimpuh memohon ampunan-Nya…
Duhai Rabb Yang Maha Penerima taubat, Rabb Yang Maha Penyayang, ampuni segala dosa hamba, ampuni hamba yang seringkali lalai… Duhai Rabb Yang Maha Lembut, lembutkan hati hamba, sucikanlah hati ini dari segala goresan hitam akibat dosa, limpahkan cahaya-Mu ke dalam hati ini, teguhkan hatiku di atas iman, jadikanlah hati ini senantiasa khusyuk mengingat-Mu, hati yang selalu merindukan-Mu, rindu untuk memandang wajah-Mu… Ya Tuhanku, kumpulkan aku kelak bersama orang-orang yang Engkau ridhai, jadikan saat berjumpa dengan-Mu sebagai hari terbaik untukku. Amin.
Saturday, July 07, 2012
Egypt’s President-elect Morsi Moves from rented Flat to Presidential palace
Egypt’s President-elect Morsi Moves from rented Flat to Presidential palace
Egypt’s President-elect Mohammed Morsi until yesterday lived in a spartan rented flat on the outskirts of Cairo. This photo above shows an emotional send-forth as Morsi said goodbye to his landlord (right) as he was being escorted by the Presidential guard to the presidential residence…
DATELINE:
1. The first group of Egyptians invited by new president-elect Morsi to presidential residence are the families of the martyrs of the Egyptian revolution. Khaled Said’s mother has now arrived at the presidential ceremonial palace to be welcomed by the president shortly.
2. Few facts about the new #President of #Egypt:
a) He was imprisonned by Mubarak at the start of the revolution.
b) He lives in a rented flat in Cairo but originally from Sharqya.
c) He received a Bachelor’s and Master’s Degree in engineering from Cairo University in 1975 and 1978, respectively.
d) He received his Ph.D. in engineering from the University of Southern California in 1982.
e) He was an Assistant Professor at California State University, Northridge from 1982 to 1985.
f) In 1985, he returned to Egypt to teach at Zagazig University
g) served as a Member of Parliament from 2000 to 2005
h) He has 5 children.
3. Egypt stock market continue to rise at exponential levels with gains reaching 6 Billion Egyptian pounds following yesterday’s record 18 Billion rise.
4. Morsi forbids the hanging of his photo in government institutions. A protocol widely used in Mubarak times where Mubarak’s photos used to be hanged on every wall including schools and hospitals.
5. Morsi orders his security to limit his convoy number of cars to a minimum and ensure no blockings of the roads (Mubarak convoy used to block streets for hours).
6. New president, Morsi, meets the families of the martyrs of the revolution and the wounded including Khaled Said’s mother and Mina Daniel’s sister.
7. Morsi orders his security to allow martyrs family access to him at all times.
8. Morsi responded to a congratulations letter from Bashar AlAssad saying he does not regard him as a representative of Syria and Syrians any more.
9. President spokesman denies Morsi had any interviews with Iranian media.
Wednesday, July 04, 2012
Solat dan Doa Malam Nisfu Sya'aban
Hari ini 14 syaaban, malam ini malam 15 syaban aka nisfu syaaban,
Hukum Solat Dan Doa Pada Malam Nisfu Sya’ban
Petikan Fatwa Fadhilah Mufti Mesir Prof. Dr Ali Jum’ah. Terjemahan : Ibnu Juhan Al-Tantawi Soalan : Apa hukum melakukan solat dan doa pada malam nisfu Sya’ban seterusnya berpuasa pada siang harinya? Jawapan : Malam nisfu Sya’ban merupakan malam yang barakah. Terdapat sebilangan besar dalil yang menyebut tentang kelebihan malam nisfu Sya’ban daripada hadis-hadis (nabi S.A.W) yang saling menguatkan antara satu sama lain serta mengangkat (hadis-hadis tersebut) ke darjat Hadis Hasan dan Kuat (dari segi hukumnya). Maka mengambil berat terhadap malam nisfu Sya’ban serta menghidupkan malamnya adalah sebahagian daripada agama yang tiada keraguan padanya. Adapun keraguan yang timbul adalah disebabkan pandangan terhadap hadis-hadis yang barangkali hukumnya Dhaif yang menceritakan tentang kelebihan malam tersebut. Antara hadis-hadis yang menceritakan tentang kelebihannya : عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْها قَالَتْ : “فَقَدْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَخَرَجْتُ أَطْلُبُهُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ رَافِعٌ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ :يَا عَائِشَةُ أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قَالَتْ :قَدْ قُلْتُ وَمَا بِي ذَلِكَ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ” – رواه الترميذي وابن ماجه وأحمد . Hadis daripada Ummul Mukminin Sayidatina ‘Aisyah R.A telah berkata : “Aku telah kehilangan nabi S.A.W pada suatu malam, maka aku telah keluar untuk mendapatinya maka baginda berada (sedang berdiri di kawasan perkuburan) Baqi’ sambil mendongakkan kepalanya ke langit.lalu baginda berkata : Wahai ‘Aisyah, adakah kamu takut Allah dan Rasulnya melakukan kezaliman ke atas kamu? Berkata ‘Aisyah : Bukan demikian sangkaanku tetapi aku menjangkakan kamu telah pergi kepada sebahagian daripada isteri-isteri kamu (atas perkara-perkara yang mustahak lalu aku ingin mendapat kepastian). Lalu baginda bersabda : Sesungguhnya Allah Ta’ala telah turunkan (malaikatNya dengan perintahNya) pada malam nisfu Sya’ban ke langit dunia, lalu Allah mengampunkan dosa-doa (yang dilakukan oleh hambaNya) lebih banyak daripada bilangan bulu-bulu yang terdapat pada kambing-kambing peliharaan (bani) Kalb.” -Hadis Riwayat Al-Tirmizi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad. Seterusnya, عن مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ ” – رواه الطبرانى وصححه ابن حبان . Hadis daripada Saidina Mu’adz ibnu Jabal R.A bahawa nabi S.A.W telah bersabda : “Allah memandang pada kesemua makhluk ciptaanNya pada malam nisfu Sya’ban, lalu Allah mengampunkan dosa-dosa kesemua makhlukNya melainkan dosa orang musyrik (yang menyekutukan Allah) dan dosa orang yang bermusuhan.” -Riwayat Al-Tobrani dan disahihkan oleh Ibnu Hibban. Seterusnya, عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ كرم الله وجهه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ” – رواه ابن ماجه . Hadis daripada Saidina ‘Ali R.A bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda : “Apabila masuk malam nisfu Sya’ban, maka hendaklah kamu bangun pada malamnya dan berpuasa pada siang harinya, Sesungguhnya Allah Ta’ala menurunkan malaikatnya ke langit dunia pada malamnya setelah terbenamnya matahari, lalu Allah berkata : Sesiapa yang memohon keampunan padaKu maka Aku akan mengampunkan baginya, Sesiapa yang memohon rezeki padaKu maka Aku akan memberikannya rezeki, Sesiapa yang ditimpa musibah maka Aku akan melepaskannya, sesiapa yang demikian…sesiapa yang demikian …sehinggalah terbitnya fajar.” -Riwayat Ibnu Majah. Tidaklah mengapa seandainya membaca surah Yasin sebanyak 3 kali selepas solat maghrib secara terang-terangan dan beramai-ramai. Hal ini kerana termasuk dalam perkara menghidupkan malam tersebut dan perkara berkaitan dengan zikir ruangannya adalah luas. Adapun mengkhususkan sebahagian daripada tempat dan waktu untuk melakukan sebahagian daripada amalan soleh secara berterusan adalah termasuk dalam perkara yang disyariatkan selagi mana seseorang yang melakukan amalan tersebut tidak beri’tiqod (menjadikannya sebagai pegangan) ; bahawa perkara tersebut adalah wajib di sisi syara’ yang membawa hukum berdosa sekiranya meninggalkannya. عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبً” – متفق عليه . Hadis daripada Ibnu Umar R.A telah berkata : “Nabi S.A.W akan mendatangi masjid Quba pada setiap hari Sabtu samada dengan berjalan ataupun menaiki tunggangan.” -Riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim. Berkata Al-Hafiz Ibnu Hajar di dalam kitabnya (Fathul Bari) : “Di dalam hadis ini walaupun berbeza jalan-jalan pengriwayatannya menunjukkan kepada (hukum) harus mengkhususkan sebahagian hari-hari untuk melakukan sebahagian daripada amalan-amalan soleh serta melakukannya secara berterusan.” -tamat Berkata Ibnu Rajab Al-Hanbali di dalam kitabnya (Lathoif Al-Ma’arif) : “Ulama’ di Syam telah berselisih pandangan dalam menyifatkan cara untuk menghidupkan malam nisfu Sya’ban kepada dua pandangan. Pertamanya : Adalah disunatkan menghidupkan malamnya secara berjamaah di masjid. Khalid ibn Ma’dan dan Luqman ibn ‘Amir dan selain daripada mereka telah memakai sebaik-baik pakaian, dan mengenakan wangian serta mengenakan celak pada mata serta mendirikan malamnya dengan ibadah. Dan Ishaq ibn Rahuyah bersepakat dengan pandangan mereka terhadap perkara tersebut dan berkata dalam masalah mendirikan malamnya dengan ibadah di masjid secara berjamaah : “Perkara tersebut tidaklah menjadi bid’ah.” Kalam ini dinukilkan oleh Harb Al-Kirmani di dalam kitab Masail nya. Keduanya : Sifatnya adalah makruh penghimpunan pada malamnya di masjid untuk melakukan solat serta bercerita dan berdoa. Dan tidak makruh sekiranya seseorang itu melakukan solat secara bersendirian. Ini adalah pandangan Al-Auzaie Imam Ahli Syam dan Ahli Faqeh dan ‘Alim.” -tamat Kesimpulannya : Maka menghidupkan malam nisfu Sya’ban sama ada secara berjamaah ataupun secara bersendirian sebagaimana sifat yang masyhur dikalangan orang ramai dan selainnya adalah perkara yang disyariatkan dan tidaklah menjadi bid’ah dan tidaklah menjadi makruh dengan syarat tidak menjadikan amalan tersebut sebagai suatu kemestian dan kewajipan. Sekiranya amalan tersebut diwajibkan ke atas orang lain serta menghukum kepada mereka yang tidak mengikutinya dengan hukum berdosa maka menghukumkan dengan hukum dosa itu yang menjadi bid’ah kerana mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah dan RasulNya S.A.W. Inilah makna yang menjadikannya makruh sebagaimana pandangan para salafussoleh terhadap hukum makruh dalam menghidupkan malam nisfu Sya’ban. Adapun menghidupkan malamnya sebagaimana hakikat asalnya maka perkara tersebut adalah disyariatkan dan tidaklah menjadi makruh. Sumber : Majalah Minbar Al-Islam, keluaran tahun ke-(68), bil (8) Sya’ban 1430, m/s 136. |
FROM BROKEN HEART TO TRANQUILITY
3. Program ini bertujuan untuk memberi kesedaran dan perlatihan untuk menangani permasalahan hidup dan mengubah diri menjadi lebih positif. Kehadiran speaker berpengalaman seperti Profesor Dr. Rozieta Shaary, Puan Suria Mohd dan Puan Hajah Fauziah Ramly bakal membimbing wanita-wanita ini mengubah episod duka yang dilalui mereka kepada perubahan diri yang cemerlang. Program ini akan diserikan dengan persembahan istimewa daripada Hafiz Hamidun melalui zikir terapi diri yang amat sesuai bagi mencapai ketenangan jiwa (nafsu muthma’innah).
4. Program ini bertujuan untuk mengumpul dana bagi menampung urusan dan operasi RUMAH WIRDA, iaitu sebuah rumah perlindungan untuk wanita yang menjadi mangsa rogol, penganiayaan, penderaan dan keganasan rumahtangga. Selain daripada itu, RUMAH WIRDA juga menerima kes-kes gangguan seksual, ibu tunggal dan anak-anak yang terpinggir.
5. Walaubagaimanapun, penghuni-penghuni rumah ini terpaksa dipindahkan setelah kontrak penyewaan ditamatkan. Buat sementara waktu, penghuni-penghuni terpaksa ditumpangkan di rumah-rumah sukarelawan. Justeru itu, pihak sukarelawan WIRDA sedang berusaha keras untuk mengumpul dana bagi mendapatkan rumah perlindungan baru yang lebih lengkap dengan fasiliti bagi menampung keperluan seharian para penghuni.
6. Bagi mencapai tujuan program ini, dengan ini kami memohon penajaan meja dari pihak YB Dato’. Penajaan meja adalah untuk wanita wanita teraniaya, golongan susah dan mualaf. Untuk makluman, tiket penyertaan atau penajaan adalah seperti berikut:
• RM290 untuk seorang
• Diskaun 10% untuk penyertaan 5 orang berkumpulan
• RM2500 bagi satu meja (10 orang)
7. Sekiranya terdapat sebarang pertanyaan, sila berhubung dengan pihak sekretariat, Cik Balqis Ismail di talian 03-41085128 atau melalui emel wirda.central@gmail.com.
8. Bersama-sama ini saya sertakan flyer berkenaan program talk show tersebut. Kerjasama dan sokongan YBhg Dato’ adalah amat dihargai dan didahului dengan ucapan terima kasih.
BAYARAN BOLEH DI BANK IN KE AKAUN : WIRDA, ACC NO : 1211-3010-0434-29
SILA FAXKAN RESIT ATAU BANK IN SLIP KE FAX NO: 03-41075237
TERIMA KASIH.
SEMOGA ALLAH MERAHMATI KITA
Friday, June 29, 2012
Tips menyambut kedatangan Mertua / Ibu Bapa
Sobahul khair, sobahunnur fil yaumil Jumaat Al Mubarakah! Hari Jumaat yang Berkat!
Mama mengingatkan anak anak mama yang belum membaca Surah Al Kahfi bolehlah mula dari sekarang (satu ayat demi satu ayat ) sehingga sebelum menjelang maghrib demi mendapat Nur ala Nur dari Allah Rabbul Jalil. Subahnallah! ......
Pagi ini mama nak share satu posting dari Pak Utih mengenai tips menyambut dan mengalu-alukan kedatangan ibu bapa atau mertua. Jika mertua atau ibubapa antum datang berkunjung ke rumah atau bertandang sekejab elok dilayani mereka seperti berikut:
1. Apabila tahu sahaja mereka nak datang, cepat2 telefon tanyakan anggaran masa mereka sampai ke rumah. (Ini menyebabkan mereka rasa dialu-alukan)
2. Nada suara semasa bertanyakan masa mereka sampai hendaklah suara ceria seperti anda mendapat hadiah cabutan bertuah. (Ini menyebabkan hati mereka bertambah lega untuk singgah)
3. Cepat2 sediakan minuman kegemaran mereka atau sekurang-kurangnya air mineral dan sedikit buah atau biskut (jika tak sempat nak beli kueh) sebagai hiasan hidangan welcoming untuk mereka. (Ini akan menyebabkan diri mereka sangat dialu-alukan kedatangannya).
4. Jangan sekali-kali tanyakan kepada mereka, "Ayah dah makan ke?" atau "Ayah nak makan sini ke" sedangkan antum tidak menyediakan welcoming drink. (Ini menyebabkan mereka serba salah untuk menjawabnya..sudah semestinya mereka menjawab, "Ayah dan mak dan makan on the way tadi".
5. Tapi kalau antum telah hidangkan welcome drink, tidak apa bertanyakan soalan no.4 itu.
6. Bertambah runsing minda mereka apabila antum berkata, "Kalau mak dan ayah nak makan, saya nak kuar jab beli, dekat je" (Walaupun kedai itu dekat, ungkapan antum ini dirasai seperti kedatangan mereka menyusahkan antum).
7. Sebaik-baiknya hidangan makanan tersedia sebelum mereka duduk dihadapan meja kosong. 8. Untuk dapat melaksanakan perkara di atas, antum hendaklah berbincang membina S.O.P. "MENYAMBUT MAK DAN AYAH" suami isteri melayani mereka secara berpasukan.
9. Semasa mereka beredar meninggalkan rumah, lambailah mereka hingga mereka hilang daripada pandangan (ini menyebabkan mereka rasai betapa rindunya antum kepada mereka seolah2 tidak puas melayan mereka)
10. Bila mereka telah hilang daripada pandangan, doakanlah akan keselamatan mereka.
wassalam
Ahmad Shafiai Uda Jaafar (Pak Utih)
Mobile: 019 336 0522
Dean Faculty of Education and Human Development "Helping Boys Nurturing Girls in Early Childhood Education"
Kolej UNITI Pasir Panjang Port Dickson, Negeri Sembilan,
Malaysia www.uniti.edu.my
Monday, June 18, 2012
Doa Solat Dhuha
Doa Perpisahan - Doa Rabithah
Siruu fi amanillah
CIRI CIRI IBADURRAHMAN
Sunday, May 06, 2012
EMAK- NUMBER ONE FOR ME
Crazy things I used to do
And all the pain I put you through
Mama now I’m here for you
The days I told you lies
Now it’s time for you to rise
For all the things you sacrificed
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
I’ts a brand new day
I’d like to put a smile on your face everyday
And it’s not too late
I’d like to put a smile on your face everyday
You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
Oh oh
number one for me
That famous line
About the day I’d face in time
Coz now I have a child of mine
I’ve learnt so much from you
Now I’m trying to do it too
Love my kids the way you do
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
I’ts a brand new day
I’d like to put a smile on your face everyday
And it’s not too late
I’d like to put a smile on your face everyday
You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
Oh oh
number one for me
That can take your place
Oooh I’m sorry for ever taken you for granted
To make you smile
Whenever I’m around you
Like you love me
Only God knows how much you mean to me
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
I’ts a brand new day
I’d like to put a smile on your face everyday
And it’s not too late
I’d like to put a smile on your face everyday
Sunday, April 29, 2012
Saturday, April 28, 2012
I was here on 28th April 2012
Bersama 250,000 rakyat Malaysia yang menuntut 8 perkara :
2. Reformasikan Undi Pos
3. Gunakan Dakwat Kekal
4. Akses Media Yang Bebas & Adil
5. Tempoh Berkempen Minima 21 Hari
6. Kukuhkan Institusi Awam
7. Hentikan Rasuah
8. Hentikan Politik Kotor
Thursday, February 02, 2012
Ungkapan Sayyid Qutb yang menggugah jiwa
Beberapa minggu lepas mama hadir Ceramah khas Syeikh Dr Mahmoud Ezzat , Naib Mursyidful am yang telah diadakan pada Ahad 29 Januari 2012 bertempat di Dewan Jubli Perak, Bangunan Setiasaha Kerajaan (SUK) Negeri Selangor, Shah Alam. Beliau menyampaikan tajuk “Ikhwanul Muslimin di Era Baru” di hadapan lebih 2,000 hadirin. Beliau mengupas empat aspek; risalah yang diperjuangkan IM, sifat asasi IM, sejarah IM dan perkembangan revolusi dan pilihanraya umum Mesir.
Namun apa yang paling mama ingat ialah ungkapan yang di petik dari kata-kata Sayyid Qutb dalam bukunya yang mama tidak ingat apa nama nya.
“Sebenarnya kata kata kita, ungkapan-ungkapan kita ibarat patung, tanpa nyawa, kosong tanpa ‘semangat’ atau ruh, sehinggalah kita mati kerana kata-kata tersebut. Pada ketika itu kata-kata kita akan hidup, memancar sinar dan memberi makna. Kata kata itu akan terus hidup, seolah olah kita hidup kembali.
"Indeed our words will remain lifeless ,
barren, devoid of any passion, until we
die as a result of these words, whereupon
our words will suddenly springs to life
and live on amongst the hearts that are
dead,ringing them back to life as well.."
Tetiba mama teringat serangkap ayat Al Quran yang bermaksud;
‘Dan janganlah kamu mengatakan (bahawa) sesiapa yang terbunuh dalam perjuangan membela ugama Allah itu: orang-orang mati bahkan mereka itu orang-orang yang hidup (dengan keadaan hidup yang istimewa), tetapi kamu tidak dapat menyedarinya.
MasyaALlah Sayyid Qutb telah membuktikan kata-kata nya di tali gantung Presiden Mesir pada masa Jamal Abdul Nasser. Setelah beliau syahid kata-katanya dalam buku buku yang ditlus nbya terus hidup memberi makna kepada kita umat Islam, pencinta Islam dan dakwah.
Friday, January 13, 2012
Sungai pembersih dosa
TIGA SUNGAI UNTUK ORANG BERDOSA
Sunday, October 09, 2011
Wifehood and Motherhood are Not the Only Ways to Paradise
Wifehood and Motherhood are Not the Only Ways to Paradise
“Why are you majoring in that field?” I asked a sister in college. She sighed, “To be honest, I just want to get married. I don’t really care about what I’m studying right now. I’m just waiting to get hitched so I can be a wife and a mother.”
“It’s awesome that she wants to be a wife and a mother, but why would she put her life on hold?” I wondered. Why would a skilled, passionate young woman create barriers to striving for self-improvement and her ability to be socially transformative when she doesn’t yet have the responsibilities of wifehood or motherhood? Being a wife and a mom are great blessings, but before it actually happens, why exchange tangible opportunities, just waiting for marriage to simply come along—if it came along? I didn’t have to look far to find out.
“I’m already twenty-six,” another sister lamented. “I’m expired. My parents are going crazy. They think I’m never going to get married and they pressure me about it daily. My mom’s friends keep calling her and telling her I’m not getting any younger. She keeps crying over it and says she’ll never be a grandma. It’s not like I don’t want to get married; I’ve been ready since college! I just can’t find the right guy,” she cried.
Why, as a general community, are we not putting the same pressure on women to encourage them to continue to seek Islamic knowledge? Higher education? To make objectives in their lives which will carry over and aid them in their future familial lives, if such is what is meant for them? Perhaps it’s because we’re obsessed with the idea that women need to get married and become mothers and that if they don’t, they have not reached true success.
We all know the honorable and weighty status of wifehood and motherhood in Islam. We all know that marriage completes half your deen1 and that the Prophet ﷺ (peace be upon him) has told us about the mother, “[…] Paradise is at her feet.”2
But getting married and becoming a mother is not the only way to get into Paradise. And not every grown woman is a wife and/or mother, nor will ever be. Some women will eventually become wives and/or mothers, if Allah subhanahu wa ta`ala (exalted is He) blesses them with such, but for others, Allah (swt) has blessed them with other opportunities.
Allah (swt) did not create women for the sake of wifehood or motherhood. This is not our first goal, nor our end goal. Our creation was to fulfill our first and most important role—to be His SLAVE. As He tells us in Surah Dhaariyat (Chapter of the Winnowing Winds), “And I did not create the jinn and humankind except to worship Me.”3
Worship comes in such a variety of forms. Being a housewife (a.k.a. domestic engineer!) can be a form of worship. Being a stay-at-home-mom can be a form of worship. Being a working wife and mother can be a form of worship. Being an unmarried female student can be a form of worship. Being a divorced female doctor, a female journalist, Islamic scholar, film director, pastry chef, teacher, veterinarian, engineer, personal trainer, lawyer, artist, nurse, Qur’an teacher, psychologist, pharmacist or salon artist can each be a form of worship. Just being an awesome daughter or house-fixer upper can be forms of worship. We can worship Allah (swt) in a variety of ways, as long as we have a sincere intention, and what we do is done within the guidelines He has set for us.
Unfortunately, however, that is not the message our community is sending to single sisters – both those who have never been married, and those who are now divorced. When I speak to many women and ask them about the ways they want to contribute to society and the ways they want to use their time and abilities, a number of them will tell me that they have no idea and that they’re only going through the motions of school or work while they’re waiting for Prince Muslim to come along and with whom they can establish parenthood.
However, Prince Muslim is not coming along quickly or easily for many awesome, eligible Muslim women. And for some, he has come along, and he or the institution of their relationship turned out to be more villainous than harmonious. Single and never married or divorced — very capable and intelligent Muslim women constantly have to deal with the pressure of being asked, “So…when are you getting married? You aren’t getting any younger. It’s harder to have kids when you’re older.”
The amount of tears, pain, stress, anger and frustration which these awesome women are constantly dealing with because of a social pressure to get married (especially when many already want to, but are just not finding the right person!) and have children is not from our religion.
Islam gave women scholarship. Our history is filled with women who have dedicated their lives to teaching Islamic sciences. Have you ever heard of Fatimah Sa`d al Khayr? She was a scholar who was born around the year 522. Her father, Sa`d al Khayr, was also a scholar. He held several classes and was “most particular about [his daughters] attending hadith classes, traveling with them extensively and repeatedly to different teachers. He also taught them himself.”4 Fatimah studied the works of the great al-Tabarani with the lead narrator of his works in her time. You know who that lead narrator was? The lead narrator of Fatimah’s time was not named Abu someone (the father of someone, indicating that he was a male). The leading scholar of her time was a woman. Her name was Fatimah al-Juzadniyyah and she is the scholar who men and women alike would study under because in that era, she was the greatest and most knowledgeable in some of the classical texts.5 Fatimah Sa`d al Khayr eventually married and moved to Damascus and eventually to Cairo and she continued to teach. Many scholars travelled specifically to her city so they could study under her.6
Fatimah was brought up in a family that valued the education and knowledge of a woman to the point that her father was the one who would ensure she studied with scholars from a young age. Before marriage, she was not told to sit around and be inactive in the community out of fear that some men would find an educated woman unattractive or intimidating and would not want to marry her. She was not going through the motions of studying random things in college because she was stalling until she got married. She sought scholarship and Allah (swt) blessed her with a husband who was of her ranking, who understood her qualifications and drive, and who supported her efforts to continue teaching this religion even after marriage. She left a legacy we unfortunately have most likely never heard about because we rarely hear about the over eight thousand female scholars of hadith who are part of our history.7
Why do we never hear about Fatimah Sa`d al Khayr and the thousands of female scholars who were like her? I think that one of the reasons—and it’s just a personal theory—that as a community, we are so focused on grooming our women to be wives and mothers that we lose sight of the fact that this is not even our number one role.
Servitude to Allah (swt) is our number one role. We need to use what He has given us, the means that we have at the moment we have, to worship Him in the best of ways.
We call for revival of the Sunnah through encouraging marriage and populating the Ummah—let us follow the sunnah (tradition) the Prophet ﷺ has left for us through his wife, Aisha (may God be pleased with her)!
Who was Aisha? Was she a mother? She was never a mother. She was a scholar. She was versed in medical affairs. She was the commander of an army. She was a leader, an educator and a devout worshipper of Allah (swt). She was not known to be a great cook—even though she was the wife of the final Prophet of God! And where do we see the Prophet ﷺ admonishing her because of that? He loved her and he trained her in scholarship.
Islamic history is filled with examples of women who were wives and mothers, who focused completely on their tasks of being wives and/or mothers, and produced the likes of Imam Ahmed rahimahu allah (may God have mercy on him).8 We take those examples as a community and we reiterate the noble status of such incredible women.
But we also have examples of people who were not only wives and not only mothers, but those who were both of those, one of those, or none of those, and still were able to use the passions, talents and skills Allah (swt) blessed them with to worship Him through serving His creation, through calling His creation back to His Deen and leaving legacies for the generations to come. Some of these women were wives and mothers and dedicated their lives to focusing on their families completely and some of them continued to serve the greater society at large. It is possible to balance both; it just needs drive, stamina, support and planning.
Shaykh Mohammad Akram Nadwi mentions in his introduction to his Dictionary of women hadith scholars, Al Muhadithaat, “Not one [of the 8000 female hadith scholars he researched] is reported to have considered the domain of family life inferior, or neglected duties therein, or considered being a woman undesirable or inferior to being a man, or considered that, given aptitude and opportunity, she had no duties to the wider society, outside of the domain of family life.”9
Female scholars in our history were focused on being family women when they had families to whom they held responsibilities, and when able, they also had goals and objectives in life which extended beyond the roles of wifehood and motherhood. So what about someone who is not yet married? Many single women are using their time to the utmost, focusing on improving their skills and abilities to contribute back to the ummah (community) and society at large. They are loving worshipping Allah (swt) through investing in their abilities and using those for the greater good. Perhaps we can all take from their example.
God, in His Wisdom, has created each one of us differently and in different circumstances. Some recognize this, love any stage they are in, and develop their abilities to the fullest. Let us, too, use the time and abilities God has given us to maximize our worship to Him and work for the betterment of society and humanity as a whole. If wifehood or motherhood comes in the process, then at least we were using all of our ability to worship Him before it came and can continue to use the training and stamina we gained before marriage to worship Him with excellence once it comes along.
If there are parents, families and communities that are pressuring women to get married and have kids: Be grateful Allah (swt) has blessed you with daughters, married or unmarried, mothers or not, as the Prophet ﷺ has said, “Do not be averse to daughters, for they are precious treasures that comfort your heart.”10 We are putting more pressure on our sisters than they can emotionally and psychologically handle. Let us give them space, let them find themselves and establish their relationships with Allah (swt).
Allah (swt) created us to worship Him. That is our number one role. Now, let us do our part and figure out how best we can fulfill the purpose for which we’ve been created.



